Matahari mulai mendatangi rumah Fikri. Saat itu Fikri masih baru memasuki sekolah . Dia pun memulai harinya dengan senyuman dan semangat. Karena akan belajar di sekolah yang baru dia masuki. Tetapi tiba-tiba dia teringat satu hal. Dia baru saja menyadari kalau dia harus menjemput seseorang perempuan yang bernama Eka. Satu sekolah dengan Fikri. Meskipun mereka masih baru mengenal satu sama lain , namun di hatinya Fikri berkata lain. Mungkin Fikri baru pertama kali mengenal dan merasakan jatuh cinta.
Fikri pun bergegas sekolah dan tiba di kelasnya. Seperti biasa, dia selalu bercanda ria dengan teman sekelasnya. “Qdut !” Teriak Fikri dengan kerasnya. “Ape ?” Sahut Qdut. “Coba tebak !” jawab Fikri. “Tebak ape ? engga tau ah.” Sambut Qdut dengan marah. “Gue abis nganter Eka dong“ balas Fikri. “Yee. Kirain apaan. Ciee yang lagi kasmaran” Ledek si Qdut.
Setelah beberapa jam kemudian. Bel tanda istirahat pun berdering dengan kerasnya. Fikri yang sangat ingin cepat-cepat bel agar bertemu Eka pun bergegas keluar dari kelas dan segera menuju kantin. Ketika di kantin, Fikri mulai menggoyangkan matanya ke kanan dan ke kiri. Mencari seseorang yang sangat ingin ia temui tak kunjung datang. Akhirnya dengan hati yang gelisah dan sedikit kecewa, Fikri memutuskan untuk kembali masuk kelas dan belajar kembali.
“Teengg .. Teeng… Teeeeng” Terdengar bunyi bel yang menandakan waktunya murid-murid untuk kembali ke rumah mereka. Tetapi tidak untuk Fikri. Sementara yang lain pergi pulang, dia tetap berdiri di sekolah dan mencari Eka sang pujaan hatinya itu. Fikri menunggu menunggu dan menunggu. Tidak ada tanda-tanda dari eka sampai akhirnya Fikri melihat jam yang ada di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 19.00 . Kecewa lagi kecewa lagi. Namun tidak mematahkan semangatnya untuk mengejar dan mengambil hatinya Eka.
Fikri membuka pintu rumah, bersalaman dengan kedua orang tuanya, dan menutup pintu kamar rapat-rapat. Fikri mengambil sesuatu di balik saku celananya. Dia mengambil HP dan ingin menghubungi Eka. “Eka ?” ujar Fikri melalui SMS. “Iya , kenapa ya ?” sahut Eka. “Gue boleh nanya sesuatu ?” Balas Fikri. “boleh-boleh aja, emang mau Tanya apa ?” Tanya Eka. “Eka kan udah deket sama Fikri dan akhir-akhir ini kita selalu bareng-bareng. Fikri mau Tanya. Perasaan Eka ke Fikri itu gimana ?” Tanya Fikri dengan hati yang tak karuan. “Sebelumnya Eka minta maaf, Eka Cuma anggap Fikri itu sahabat Eka, engga lebih. Jadi maaf ya Fik” Ujar Eka dengan suara yang lantang.
“Praaaak !” Terdengar seperti sesuatu jatuh ke lantai. Ternyata HPnya Fikri. Dengan hati yang benar-benar hancur, tangan gemetar, seakan tak bisa berbuat apa-apa lagi. Fikri pun membanting semua benda yang ada di hadapannya. Hingga akhirnya ia pun terlelap tidur.
Mentari mulai menerangi Bumi. Fikri yang telah bangun dari tidurnya pun pagi ini terasa berbeda dari pagi-pagi yang biasanya. Lemas, tak berdaya, dan tidak ada semangat. Itu semua yang dirasakan Fikri saat itu. Fikri pun memulai harinya dengan perasaan yang canggung.
Tiga Hari telah berlalu. Fikri yang tadinya selalu diam, merenung. Sekarang sudah mulai kembali ke dirinya yang dulu. Sepertinya dia mulai melupakan Eka. Dan ada alasan mengapa dia mulai melupakan Eka. Yaitu ada seseorang perempuan yang mulai memasuki hatinya. Perempuan itu bernama Octy. Cewek yang entah mengapa mampu membuat Fikri melupakan Eka.
Istirahat dimulai. Fikri dan kawan-kawan bergegas pergi untuk sarapan di kantin. Makanan pun secepat kilat telah habis mereka lahap. Fikri berniat untuk kembali ke ruangan kelasnya. Pada saat Fikri berjalan melewati pedagang-pedagang yang ada di kantin itu, dia melihat sesosok wajah yang sangat ia kenal, Octy. Cewek berwajah lugu yang bisa mengobati sakit hatinya Fikri karena Eka. Hampir satu menit Fikri memandang wajah Octy. Sampai akhirnya dia dipanggil temannya. “Fik ! Ayo masuk !” Teriak Qdut. “Eh iya iya dut” sahut Fikri. “Ngeliatin Octy terus ya ? haha” Tanya Qdut. “Tuh tau. Hehehe” Sambil tertawa. “Nah. Gitu dong, baru sahabat gue yang gue kenal” Sambil mengusap-usap ubun-ubun kepala Fikri “Thanks ya sob, Cuma lu doing yang bisa bikin gue lupain Eka” kata Fikri. “Iya iya sama-sama. Itu emang udah jadi tugas gue buat nenangin lu dari masalah yang lu hadapin” jawab Qdut. Setelah mereka berbincang dengan asiknya. Tak terasa Bel tanda masuk telah terdengar.
Dengan secepat kilat pun semua murid kembali ke kelas mereka masing-masing. Begitupun dengan Fikri dan Qdut. “Fikri !” Terdengar suara seseorang yang seakan-akan ingin membunuh Fikri. Fikri pun terkejut bukan main. “Ah ? oh ibu . kenapa bu ?” jawab fikri dengan paniknya. Dia tersadar kalau suara itu suara ibu gurunya. “kenapa kenapa. Ngapain kamu bengong ? sekarang jawab pertanyaan ibu. Apa yang dimaksud dengan konotasi ?” Tanya bu guru. “Hmm. Apa ya bu .” Jawab Fikri dengan mengusap-usap kepala. Fikri yang seketika terkejut karena ditanya oleh ibu guru pun segera melirik ke arah Qdut. Seperti ingin menanyai Qdut apa jawaban yang ditanya ibu guru. Qdut yang tahu apa maksudnya Fikri melirik ke arahnya pun langsung membisiki telinga Fikri. “Kata-kata cinta Fik !” jawab Qdut dengan muka yang menahan rasa ketawa karena memberi tahu jawaban yang salah. “Kata-kata Cinta bu” Jawab Fikri dengan suara yang lantang dan muka yang sok berbangga hari. Seakan-akan jawaban yang di katakannya itu benar. “Fikri .. Fikri .. Salah ! makanya jangan mikirin perempuan terus !” Jawab ibu guru dengan menggeleng-gelengkan kepala. Murid-murid sekelas yang mendengar ucapan ibu guru pun serentak tertawa.
Empat jam telah berlalu. Tak terasa saatnya semua murid membaca do’a pulang yang menandakan pelajaran telah berakhir. Fikri yang sadar bahwa pelajaran telah selesai pun tiba-tiba senyum-senyum sendiri. “Akhirnya pulang, saatnya bertemu Octy” Ujar Fikri dalam hati.
Fikri segera membuka pintu kelas dan bergegas mendekati pintu gerbang agar bisa bertemu dan bisa melihat Octy. “Fikri” terdengar suara yang sangat merdu. Seakan seperti suara seseorang yang menyapa Fikri. Fikri yang mendengar suara itu pun segera menolehkan kepalanya dan mencari siapa yang telah menyapanya tersebut. “Eh Octy. Mau pulang yah ?” Tanya Fikri sambil tersenyum dan memasang wajah yang kemerah-merahan. “iya nih Fik. Octy pulang duluan yah” Jawab Octy sambil melambai-lambaikan tangannya ke Fikri. “Iya Octy. Hati-hati ya” Jawab Fikri. Fikri yang mendengar dan melihat apa yang di lakukan Octy ke Fikri pun tiba-tiba lompat-lompat tak karuan sambil mengepalkan tangannya dan mengayunkan tangannya kedepan dan kebelakang. “Oke . Tekad gue sudah bulat. Besok tembak Octy ! I’m Ready” Teriak Fikri dalam hati.
Terdengar nyanyian seekor ayam di pagi hari. Saat nya Fikri untuk bangun. Fikri yang segera turun dari ranjangnya dan membuka kaca jendela kamarnya dan mulai menghirup udara di pagi hari. Pagi itu Fikri sangat bersemangat dan sangat berbeda dengan saat Cintanya ditolak Eka. Fikri pun segera menghampiri toilet dan berniat untuk segera menyegarkan diri dengan air bak yang ada di dalam toiletnya itu. Seperti layaknya orang-orang lainnya, Fikri pun segera merubah profesi menjadi penyanyi Kamar mandi. Meskipun penontonnya tidak ada. Namun tidak menghetikan nyanyian seorang Fikri yang sedang kasmaran itu.
Semua pelajaran telah selesai. Fikri pun tak menyadari karena waktu berjalan sangat cepat. Dan semua murid bergegas keluar dari kelasnya kecuali Fikri. Fikri sedang berdiri di depan pintu kelasnya untuk menunggu Octy melewatinya.
Terdengar suara hentakan langkah kaki dari sebelah lorong yang ada di samping kelasnya Fikri. Wajah Fikri yang tadinya cemberut dan jelek itu menjadi senyuman yang sedikit menawan. Seketika wajahnya Fikri berubah karna melihat Octy menghampirinya. “Fik, jadi pulang bareng?” Tanya Octy. Fikri teringat semalam dia sms Octy dan ingin mengajaknya pulang bareng dan juga ingin menyatakan perasaannya ke Octy. “Yaudah yuk!” Sambut Fikri.
Mesin motor pun dihidupkan dan Fikri menarik perlahan Gas motornya. Fikri segera membawa Octy kesuatu tempat. Octy yang bingung mengapa dia di bawa ke tempat itu pun bertanya ke Fikri. “Fik, kok kita ke sini? Engga pulang?” “Fikri mau ngomong sama Octy” ucap Fikri. “Ngomong apa Fik?” Tanya octy. “Fikri menyimpan perasaan yang Fikri simpan dari pertama ketemu Octy. Fikri suka sama Octy. Octy mau enggak jadi pacar Fikri? Kalau emang Octy mau. Tolong dong ambil permen milkita ini. Tapi kalo octy engga nerima Fikri, Tolong ambil permen kaki ini. Di banting dan di injak-injak” Ucap Fikri dengan berdiri di depan Octy sambil memegang 2 buah permen yang satu milkita maksudnya dia membeli permen itu. Jika permen itu di ambil octy. Berarti Octy menerima Fikri. Dan dia membeli permen kaki. Maksudnya jika Octy menolaknya. Fikri akan menyuruh Octy menginjak-injak permen itu. Seperti Octy menginjak-injak hatinya Fikri karna telah menolaknya.
Seketika tangan Octy gemetar. Dia benar-benar terkejut dengan ucapan yang di ucapkan Fikri kepadanya.
Lima belas menit tanpa suara. Yang ada hanya air keringat yang membasahi wajah Fikri. Mungkin dia takut di tolak seperti kejadian dia dengan Eka. Tiba-tiba tangan dari Octy bergerak kedepan. Hati Fikri pun semakin tak karuan dan panik bukan kepalang. Perlahan tangan Octy bergerak mendekati permen-permen itu. Ternyata Octy mengambil permen milkita. Dan berbicara ke Fikri. “Octy juga suka sama Fikri. Octy mau ambil ini tapi ada syaratnya” Ucap Octy dengan pipi yang merah. Fikri yang langsung terkejut pun langsung bertanya “apa ty apa?” Tanya Fikri dengan girangnya. “Octy engga suka orang buang-buang makanan. Ini Octy ambil dan permen kaki ini Fikri yang makan, deal ?” Balas Octy dengan malunya. “Deal. Siap. Hehehe. Yauda yuk pulang” ucap Fikri sambil menunggangi motornya dan menampar-nampar jok belakang seperti ingin mengajak Octy untuk duduk di jok belakang itu dan pulang.
Hari ini hari pertama Fikri sekolah dengan status berpacaran dengan Octy. Sangking girangnya Fikri sampai hati menyanyi-nyanyi sendiri “Kesana kemari membawa alamat. Jeeeng jeet. Namun yang kutemukan bukan dirinya. Sayaaaang. Yang ku terimaa, alamat palsu” “Apa bae sih lu Fik, gila ya?” ucap temannya, shisun “Diem lu musuh ultramen!” balas Fikri. Seharian penuh Fikri engga jelas. Mungkin terlalu senang karna telah berpacaran dengan Octy.
7 hari kemudian
Tujuh hari telah berlalu. Begitupun Fikri yang masih setia dengan Octy. Namun tidak untuk Octy. Konon, banyak yang bilang kalau Octy suka sama kaka kelasnya. Entah mengapa setelah 7 hari lamanya Fikri dengan Octy. Octy tak lagi seperti dulu. Octy selalu menjauh ketika ingin di dekati Fikri.
Hari ke-9 dan Octy masih sama saja. Selalu menjauh dari Fikri hingga akhirnya Fikri berniat untuk menjegat Octy dan ingin berbicara dengannya saat istirahat.
Istirahat telah tiba. Saatnya Fikri menjalankan aksinya. Fikri in action. Kaca yang terdapat di depan kelas di manfaatkan Fikri untuk bersembunyi ketika Octy lewat kelasnya. Octy melewati kelasnya Fikri dan ingin pulang ke kelasnya. Fikri pun segera memanggil pacarnya itu. “Octy !” setelah mendengar suara Fikri, Octy pun tiba-tiba lari. Hingga meninggalkan Fikri sejuta tanda Tanya. Fikri benar-benar heran mengapa Octy jadi seperti itu. Akhirnya Fikri masuk kembali ke kelasnya. “Lu kenape lagi? Baru seminggu sehat, Eh begini lagi” Tanya Qdut sambil merangkulnya. “Gue engga tau kenapa Octy begitu. Gua tau kok banyak yang bilang kalo Octy suka sama kaka kelas. Tapi gue ga percaya. Karena gue udah terlalu percaya sama dia” jawab Fikri dengan lantangnya.
Setelah meereka berdua berbicang-bincang, Fiikri memutuskan untuk datang ke kelasnya Octy dan menanyakan kenapa dia seperti itu. Dengan badan yang tegak. Langkah kaki yang pasti dan muka yang sedikit melas pun Fikri mulai melangkahkan kaki menuju ruangan kelas Octy, Fikri pun telah sampai di depan pintu kelas Octy dan memanggil Octy. “Octy!” panggil Fikri dengan kerasnya. Octy yang tiba-tiba melihat Fikri pun segera lari keluar dari kelasnya. Meskipun Octy melewati Fikri. Octy sama sekali tidak memandang wajah pacarnya itu. Fikri yang sadar bahwa pacarnya telah melewatinya pun segera mengejar Octy. Sampai akhirnya Fikri dapat menangkap tangan kekasihnya itu. Fikri dengan wajah yang tak karuan bentuknya berbicara. “lu kenapa sih ty? Kok berubah banget sih?” Tanya Fikri. “Fik, Gue minta putus!” Jawab Octy. Fikri yang mendengar ucapan Octy pun tiba-tiba terdiam. “Tapi kenapa ty? Kenapa !” Tanya Fikri. Wajah Fikri pun kali ini berbeda. Wajahnya benar-benar berbeda. Matanya berkaca-kaca. Kaki dan tangannya gemetar. “Sorry ya Fik” Jawab Octy sambil menepak bahu Fikri dan bergegas kembali ke kelas. Fikri masih berdiri dan terdiam. Meratapi kegagalan cintanya. Lagi. Entah apa yang di pikirkannya. Wajahnya seperti orang yang malas hidup mati tak ingin. Dia berfikir mengapa semuanya jadi begini. Lagi lagi sakit hati yang di deritanya.
Terdengar suara langkah kaki dari belakang tubuh Fikri. Seakan ingin menghampiri Fikri. Tapi Fikri menghiraukannya. Suara itupun semakin keras sampai akhirnya suara itu mengeluarkan suara yang berbeda. Seperti suara gitar. “Engkau yang sedang patah hati..” terdengar irama lantunan lagu Last Child-Pedih. Fikri yang tiba-tiba mendengar suara itupun segera memutar balikan badannya dan melihat siapa yang menyanyi itu. Qdut ternyata. “Bro. sakit hati lagi gue” kata Fikri dengan muka yang cemberut. “Sing sabar ya ndoo. Mungkin dia lelah. Yaudah yuk masuk kelas. Udah ada guru tuh.” Jawab Qdut sambil merangkul Fikri dan mengajaknya untuk kembali ke kelas. Mereka berdua pun pergi ke kelas mereka dan kembali mengikuti pelajaran.
Semua murid telah pulang. Kecuali Fikri dan Qdut. Dua sekawan itu lebih memilih untuk pergi berdua ke tempat yang bisa membuat sakit hatinya Fikri sembuh. Qdut pun segera mengambil motornya dan mendekati Fikri “Fik. Ayo naik!” ujar Qdut. “hah? Kemana?” Tanya Fikri. “udah naik aje!” balas Qdut. Fikri pun akhirnya menaiki motor Qdut. Mereka keluar dari pintu gerbang sekolah dan pergi ke danau lio. Tak terasa mereka telah sampai di danau lio itu. “Fik. Sini !” ajak Qdut. “iyaa. Kenapa dut?” balas Fikri. “gue tau lu sakit hati. Caranya biar lu bisa mulai lupain masalah lu adalah. Lu teriak di sini sekenceng-kencengnya. “okee dut. Gue coba yaa. AAAAAAAAaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…” teriak Fikri. Hampir 5 menit Fikri terus teriak-teriak. Agar bisa melupakan masalah yang dia hadapin saat ini. Menit ke-20 Fikri mulai tersenyum kembali dan mulai bisa melupakan masalahnya. Bersama Qdut. Dia melihat ke langit. Dan berdo’a kepada tuhan. “aku berserah padamu ya allah. Kuatkan hati hamba. Cari kanlah jodoh yang tepat untuk hamba. Sesungguhnya hanya engkau ku berpasrah.” Ujar hatinya